[ Aku Mati Dua Kali, Mereka Tak Punya Hati ]
(sumber foto : photopoly) [ Aku Mati Dua Kali : Mereka tak Punya Hati ] Kutulis surat ini ketika nyawaku sudah hampir lepas dari tubuh yang hampir lumpuh. Ruang 208 Bunyi bangsal ditarik ulur tak tentu arah mulai merusak dinding telinga. yang makin parah. Perawat lalu lalang memberi obat tak terkenal ; obat murah katanya. Sambil menggengam nyawa yang hampir pergi dan melihat ibuku menelan air matanya sendiri. Meraung raung tak peduli martabat dan harga diri, demi anaknya yang hampir mati tak dihargai. Ruang 209 Penghangat ruang dipasang tuk memecah dingin kala malam. Mesin pemicu jantung mulai berlari mengejar nyawa yang hampir mati. Perawat sibuk membawa obat berlapis emas berkarat yang katanya menjamin hidup akan selamat. Pegawai jas putih itu sibuk mengulang janji busuk, menjamin kesehatan pasien seumur hidup. Ah sial kau, masih bisa berbual ketika ibuku menahan darah mengalir di tubuh anaknya. Masih saja bisa menahan tawa k...