Jingga Merah Yang Kau Bunuh Tak Berarah
Dengan wajah khawatir kau tanyakan keadaanku yang basah kuyup, aku hanya tersenyum dan
kau bernafas lega.
{{ Pulang dari toko buku, badan ku panas tak
karuan,pusing hebat mendera dan flu ikut menyertai
mereka. Besoknya ku tak masuk sekolah karena
sakit,untuk bangun dari tempat tidur saja lemas
tak berasa. Tapi tenang jangan khawatirkan aku}}
Jingga indah di belakang gedung sekolah
menjadi saksi setia yang selalu menyapa
kita saat menikmati cahaya dilangit merah.
Kau selalu begitu, menariku lari ke atas
bangunan sekolah hanya untuk memberi salam
kepada senja. Kau memejamkan mata dan tersenyum.
{{Tak pernah ku lupa sentuhan jari jari mu saat
merengkuh jari ku. Bagiku senja bukan apa apa
jika dibandingkan denganmu. Kau lebih hangat
dan indah. Walaupun aku sering dimarahi karena
pulang terlambat namun sungguh aku senang
bisa menemanimu}}
Malam itu kau katakan ada gadis yang sudah lama
mencuri hatimu. Kau juga bilang, kau ingin mengatakan
nya langsung. Kau meminta saran padaku harus memakai
apa besok, atau apa yang harus kau katakan saat
mengutarakan nya. Katamu, manik mata gadis ini
membuatmu tak bisa berkutik dan membeku di tempat.
Dan aku hanya tertawa. Aku membantumu
dan memberikan saran sebisaku,
{{Semalam suntuk ku tak bisa tidur dengan baik. Apakah
gadis yang kau maksud diriku? Astaga, pikiran apa ini.
Bahkan aku sudah memilah baju apa yang ingin ku pakai
besok. Ada hal yang harus kau tau, baju apa yang kau
kenakan, warna apapun itu, kau tetap terlihat indah.
Dan akhirnya aku bisa tertidur pukul 02,00 pagi}}
Sinar matahari mulai mundur dipukul
sore yang datang menyapa, aku berlari
menuju tempat yang kau janjikan. Dengan
sepucuk puisi indah ku tulis untukmu. Ah itu
kau,memakai baju biru laut dan topi abu abu
kesukaan mu,kau berdiri membelakangiku.
Aku langsung terdiam. Aku masih terdiam hingga
tak sadar kau ternyata melihatku, kau tersenyum.
Kau menghampiriku dan memelukku, kau bilang
terima kasih dan aku hanya diam sembari mencoba
mengukir senyum seindah mungkin.
Lalu kau pergi, aku menangis.
{{ Aku bangun kesiangan hari itu, semalam
suntuk ku habiskan untuk menulis sajak hati
untukmu. Ah apa kau akan suka ya dengan puisi
ku ini? Ditengah jalan aku sempatkan untuk
membeli pita hati bewarna biru, karena aku tau
kau cinta dengan warna itu. Dengan tenaga yang
ada, aku berlari menuju taman dan melihatmu.
Tapi sebentar, siapa gadis disebelahmu?
Apa yang kalian bicarakan?
Lalu mengapa kau langsung memeluknya? }}
--------------------------------------------------------------------------------------
Katamu, senja merah di langit hanya
untuk kita berdua. Lalu kenapa jingga
yang mulai menyapa itu kau khianati dengan
mudahnya?
Dan pada a k h i r n y a
kau p e r g i
hanya a k u
dan p u i s i ku
yang m
a
t
i
Comments
Post a Comment