Jingga Merah Yang Kau Bunuh Tak Berarah

Pinterest: |{·@mariahlkrueger·}| | Pretty sky, Beautiful sky, Sky ...Dengan wajah khawatir kau tanyakan keadaanku 
yang basah kuyup, aku hanya tersenyum dan 
kau bernafas lega. 
{{ Pulang dari toko buku, badan ku panas tak 
karuan,pusing hebat mendera dan flu ikut menyertai 
mereka. Besoknya ku tak masuk sekolah karena 
sakit,untuk bangun dari tempat tidur saja lemas 
tak berasa. Tapi tenang jangan khawatirkan aku}}

Jingga indah di belakang gedung sekolah 
menjadi saksi setia yang selalu menyapa 
kita saat menikmati cahaya dilangit merah. 
Kau selalu begitu, menariku lari ke atas 
bangunan sekolah hanya untuk memberi salam 
kepada senja. Kau memejamkan mata dan tersenyum.
{{Tak pernah ku lupa sentuhan jari jari mu saat 
merengkuh jari ku. Bagiku senja bukan apa apa 
jika dibandingkan denganmu. Kau lebih hangat 
dan indah. Walaupun aku sering dimarahi karena 
pulang terlambat namun sungguh aku senang 
bisa menemanimu}}

Malam itu kau katakan ada gadis yang sudah lama 
mencuri hatimu. Kau juga bilang, kau ingin mengatakan 
nya langsung. Kau meminta saran padaku harus memakai 
apa besok, atau apa yang harus kau katakan saat 
mengutarakan nya. Katamu, manik mata gadis ini 
membuatmu tak bisa berkutik dan membeku di tempat. 
Dan aku hanya tertawa. Aku membantumu 
dan memberikan saran sebisaku,
{{Semalam suntuk ku tak bisa tidur dengan baik. Apakah 
gadis yang kau maksud diriku? Astaga, pikiran apa ini. 
Bahkan aku sudah memilah baju apa yang ingin ku pakai 
besok. Ada hal yang harus kau tau, baju apa yang kau 
kenakan, warna apapun itu, kau tetap terlihat indah. 
Dan akhirnya aku bisa tertidur pukul 02,00 pagi}}

Sinar matahari mulai mundur dipukul 
sore yang datang menyapa, aku berlari 
menuju tempat yang kau janjikan. Dengan 
sepucuk puisi indah ku tulis untukmu. Ah itu 
kau,memakai baju biru laut dan topi abu abu 
kesukaan mu,kau berdiri membelakangiku. 
Aku langsung terdiam. Aku masih terdiam hingga 
tak sadar kau ternyata melihatku, kau tersenyum. 
Kau menghampiriku dan memelukku, kau bilang 
terima kasih dan aku hanya diam sembari mencoba 
mengukir senyum seindah mungkin. 
Lalu kau pergi, aku menangis.
{{ Aku bangun kesiangan hari itu, semalam 
suntuk ku habiskan untuk menulis sajak hati 
untukmu. Ah apa kau akan suka ya dengan puisi 
ku ini? Ditengah jalan aku sempatkan untuk 
membeli pita hati bewarna biru, karena aku tau 
kau cinta dengan warna itu.  Dengan tenaga yang 
ada, aku berlari menuju taman dan melihatmu. 
Tapi sebentar, siapa gadis disebelahmu? 
Apa yang kalian bicarakan? 
Lalu mengapa kau langsung memeluknya? }}

--------------------------------------------------------------------------------------

Katamu, senja merah di langit hanya 
untuk kita berdua. Lalu kenapa jingga 
yang mulai menyapa itu kau khianati dengan
mudahnya?


 Dan pada a k h i r n y a
         kau p e r g i
    hanya a k u
        dan p u i s i ku 
               yang m 
                           a
                               t
                                   i

Comments

Popular posts from this blog

[ Perihal Puan dalam Kegelisahan dan Tuan di tengah Cangkir Abuabu ]